•April 1, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

sejauh apakah dirimu
aku enggan mengukur
(wahai manusia yang datang dan pergi sesuka hati
bahkan lotere pun lebih mampu aku prediksi)

adakah aku di duniamu
aku enggan meragu
(wahai engkau yang melempar senyum
obral matahari pun serasa butik eksklusif dibanding denganmu)

permainan apa yang sedang kau ulur
aku ingin sekedar tak peduli
(tapi smuanya berputar di sekitarku dan aku benci diriku
yang tak bisa melangkah pergi saat senyum itu kembali lagi)

D’Etre

•April 1, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 Rasanya jalan menuju hall-ku ini tidak ada habisnya.

Aku sudah berjalan sepanjang Nanyang crescent, tapi rasanya jalan ini menjadi tak berujung. Padahal aku sudah capek. Kelelahan yang tak hanya fisik tapi juga mental bertarung di dalam kepalaku. Rasanya defense mechanismpun tidak mampu mengatasi id-ku yang egois ingin pulang. Tapi kenapa jalan ini tidak habis2nya berlanjut?

Langit Nanyang melirik aq dengan kepongahan. Handphone ku membisu di ujung jari. Pertengkaran setengah purnama lalu membayang.

Tiba-tiba aku muak.

* * *

Kadang aku heran mengapa nasib membawa aku terbang. Begitu jauh dari apa yang seharusnya tergaris. Aku hanyalah gadis biasa.dengan egoisme yang sama, idealisme masa muda yang dipenuhi harapan indah. Masa depan adalah kesemuan infinitif dalam ketidaknyataan untukku. Mendapat kesempatan untuk terbang jauh, lari dari segala kenyataan yang mungkin tidak akan sanggup aku hadapi, bukankah itu yang selalau aku rangkul dengan segenap hati? Dan sekarang di sini lah aku. Terbang jauh.

Aku hanyalah gadis biasa.

Kadang pula aku bertanya-tanya. Salahkah untuk terbang meninggalkan sarang untuk kembali? Jikalau aku terllau pengecut untuk meyakini bahwa sarang itu akan tetap kosong hingga aku pulang kembali,salahkah jika aku mencari sarang yang baru di tempat lain? Aku bukan merpati. Aku adalah gagak.

Dan sekali lagi, aku hanyalah gadis biasa.

Renunganku berakhir dalam memori sebuah window yang terbuka di hadapanku. Chat dengan kata2 dingin. Saling tuding. Dan akhirnya sarangku di seberang sana terhempas badai. Semua hanyut dalam hujan musim dingin yang pendek, singkat, dan menyakitkan. Membawa aku dalampertanyaan panjang.

Sekarang,saat ini,langit singapura yang kelabu menggelikan di bulan sepetember tertawa ke arahku. Memamerkan asap dan kabut yang dibawanya dari negera di seberang. Negara tercintaku. Menisbikan sebentuk rasa , getar yang tiba2 tersulut.

Bukan kah di sana ia berada?

Jalan ini sepertinya tidak akan berakhir.paling tidak dalam waktu kurang dari sejam lagi. Bayangan tawanya menggantung di udara. Mengejekku dalam sebuah parodi yang jelas. Tidak akan pernah bisa memancing tawaku. Nyengir pun mungkin aku akan sayang. Entah. Bukankah kadang hidup ini menggelikan? Hahaha…semuanya hanyalah undian belaka. Waktu adalah monster yang mengayun gada, menandai setiap detik yang berlalu dalam hidup. Seperti juga aku melewatkan masa-masa penuh senyumnya, masa-masa smsnya memenuhi inboxku, hingga masa-masa chat dengannya memboroskan message archive-ku.

Handphoneku masih terdiam selama separuh purnama. Inboxku hanya dipenuhi junk mail. Ikon-ikon di messengerku selalu dipenuhi orang2 yang tidak akan terlalu penting.
Aku berhenti berjalan. Langkah ini terlalu berat. Aku capek. Apakah hari ini shuttle-bus tidak jalan? Aku capek sekali..percayalah aku bukan anak manja yang mudah capek…
Tapi jalan ini sepertinya masih panjang..sebentar lagi malam. Kapan aku bisa sampai ke kamar?

Aku capek…
Aku hanya gadis biasa..

* * *
Jalan ini sepertinya memang masih sangat panjang. Mengapa?
Aku tidak tahu. Biasanya hanya seperempat jam,kamar di lantai 5 itu sudah muncul di hadapanku. Tapi entahlah kali ini rasanya tak akan ada habisnya Nanyang Avenue ini..
Yang aku tahu, handphone ku masih terdiam, inboxku masih penuh junk, dan suaranya tidak akan pernah muncul dalam hari-hariku.

Entahlah..aku tidak bisa berpikir lagi..aku capek…
Jalan ini…masih panjang ya?

Singapore, 25 Oct 2006

Sepasang Sepatu

•April 1, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

langit biru
kaki-kaki melangkah.
sepatumu bicara padaku dalam sunyi.

mengapa kau mencintaiku?

satu pertanyaan dan aku terdiam.
langkah kita tertunda sebuah penyeberangan.
zebra cross yang menggoda semua kebisuan bertanya dalam kedipan.

mengapa kau mencintainya?

lampu hijau menggamitkan aku padamu.
beriring melintasi jalanan di bawah intimidasi lampu-lampu kendaraan berkedip seragam;

aku tak bisa menjawab
mengapa aku mencintaimu.

aduh! ada kerikil!
tapi aku ingin diam. aku tak ingin kerikil ini mengganggu setiap detik yang ingin kurekam
kenangan sepanjang jalan yang mungkin tidak akan mampu kita napak tilasi lagi
kuingatkan padamu: kita bukan jenderal sudirman

tapi sayang,
kebisuanku ternyata membangun pagar
pembatas pekaranganku denganmu
jalan kita berpisah arah
dan momen-momen agung itu berlalu…

sayang,
setahun penuh dan aku berjalan di sepanjang jalan ini sendiri.
menapak tilas setiap langkah yang pernah kita tempuh
oh, semua masih begitu sama..
ingatkah penjual nasi itu?
atau anjing yang pernah mengejar kita di perempatan lorong ini?
semua masih begitu sama, sayang..

hanya satu yang berbeda,
tak ada lagi sepatu-sepatu yang saling bicara
dan aku tak bisa lagi mencari alasan untuk mengatakan

betapa aku mencintaimu.

Pemuja Rahasia

•April 1, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

memandangmu adalah sebuah keindahan
menatap senyum mahalmu yang tiba2 menyeruak
mengukir lengkung elok
memaknai sebuah penantian..

memandangmu adalah sebuah kesabaran..
mata yang senantiasa tajam itu
melembut saat tawanya mengumandang
lantang
menakhlukkan semua keangkuhan yang senantiasa membentengi
jiwa yang sejatinya rapuh dan terkungkung kesunyian..

memandangmu adalah sebuah keremajaan..
jiwaku terguncang saat sosokmu mengucap salam dari kejauhan
menciptakan getar yang senantiasa terburai tanpa bisa ditahan
layaknya gadis remaja di awal tahun merekah
malu aku entah mengapa
tak ada sebab yang jelas..

memandangmu adalah sebuah anugerah…
dalam setiap detak detik jarum yang melangkah
hari yang terlewat..
jarak terbentang di antara kita tanpa sanggup kuhela
biarlah tak tersingkap
semua di hatiku tersimpan rapat.

memandangmu adalah sebuah karunia…
izinkan aku memandangmu dalam kesunyian
dan tersenyum dalam persembunyian..

Apakah kau tahu?

•April 1, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

thalamusku sudah bosan me-relay bayangan tentangmu ke otak besarku
siapa bicara tentang cinta?
aku tidak mencintaimu..
superegoku bicara lantang

tapi idku menangis
apakah defense mechanism yang begini munafik
mampu membuat aku tertawa
terjepit antara perang batin.

persetan dengan social facilitation
orang lain tak mampu membuat aq sebodoh saat denganmu
ingatkah kau dengan masa2 contact hypothesis kita?
ataukah bystander effect yang memaksaku menghampirimu

kita sama2 sendiri…

aku dan engkau
conformity tak berlaku bagi kita
bukankah kita bahagia merasa berbeda?
entah knapa masa2 itu bgtu cepat berlalu..

saat ini hanya post decision dissonance yang memperburuk aq
lebih dalam dari cognitive dissonance
mungkin aq sudah kena depersonality dissorder..
ataukah memang histrionicku makin akut?

mengapa kau berlalu bgtu saja?
yakinkan aq,
berbaliklah dan katakan kau bukan hanya halusinasiku
mungkin dopaminku sedang di puncak
ataukah kata cintamu waktu itu hanyalah ilusi?

entahlah..

aku bukan da vinci
untuk melukisakan keindahanmu dalam monocular cues
keputusasaanku sudah berubah menjadi conflict
dalam self-discrepancyku
aku benci

benarkah kau ada
ataukah aku yang tiada?

kau adalah candu
mengkristalkan aq dalam schizophrenia…

Lelaki Hujan

•April 1, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

hujan turun lagi
mengenangkan aku padamu
padamu yang senantiasa dipeluk kabut pagi
siapakah dirimu?
selalu bersembunyi di balik tirai misteri
menuntunku terjebak dan tak bisa lagi kembali..

gerimis senja hari mengenangkan aku padamu
semburat pelangi di sela derit-derit tetesan kehidupan
lengkungan senyum yang membawa dunia penuh warna
indah..tak urung kupuji dia..

sekarang hujan turun lagi
kembali mengenangkan aku padamu
pada pelangimu yang dulu hanya milikku
pada garis horizon yang terbata di akhir gerimis
padamu yang menghutangkan hangat di sela kabut pagi

padamu..

padamu yang dulu menjanjikan pagi dalam kehangatan gerimis…
yang tertinggal hanya dinginnya kabut
di sela gerimis yang makin menggigit habis

kenangan..

baru saja hujan turun lagi
dan aku pun masih teringat padamu
padamu yang membawa hujan turun tanpa henti di duniaku..

padamu, lelaki hujanku.

ibuku (4)

•Februari 13, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

sejak saat itu aku bertekat menunjukkan bahwa tidak ada yang salah dengan sebuah pekerjaan yang halal dan menurutku sangat dedikatif. aku menghapalkan huruf-huruf bahasa isyarat pertamaku. sepertinya Tuhan ingin menunjukkan indahnya dunia yang berwarna-warni karena pada saat itu sedang booming ‘pelangi di matamu’. aku mulai iseng menyebarkan bahasa isyarat mulai dari komunitas pramuka sampai akirnya g tw darimana banyak yang minta diajarin. paling standar ‘aku cinta kamu’ (huruf ‘k’, silang dada, tanda 5).

sepertinya Lia tahu dan walaupun tidak ada perubahan berarti pada sikapnya padaku, yang paling penting adalah ibu akhirnya mengerti bahwa aku masih tetap dina yang dulu. yang bangga padanya.

Ibu yang penuh harapan dan semangat. Ibu lah yang mendorong aku mendaftar ke TN. walau dengan seluruh ketegarannya harus meneteskan air mata saat aku bercerita betapa berbedanya tahap seleksi beasiswa yang aku alami dibanding casis lain. di antara seluruh permintaan maafnya yang tidak mampu mendukungku lebih dari itu. Ibu dengan tangis bahagianya saat aku diterima, ibu dengan sujud-sujud panjang di tengah malam selama aku ada jauh disana, hari-hari terik puasanya, untaian doa dan semua sedekah di tengah kekurangannya…

ibu mana lagi yang aku inginkan.
tidak akan pernah sesempurna ibuku.
Ibuku yang suatu waktu pernah mendukung aku di sepanjang jalan saat aku jatuh sakit dan bapak sedang dinas keluar kota,ibu yang membuat aku membedakan syal yang dirajut penuh kasih dan bukan, ibu yang suka malas mengetik sms dan hanya membalas iya dan tidak, semua sisi dari ibu adalah kumpulan keindahan yang tidak akan sanggup aku lukiskan.

Ibu,tanpa bakul kau tetap wanita perkasaku
maafkan aku.
aku tidak pernah sanggup mengatakan betapa aku mencintaimu.

*specially for my mom:
dun ever say I need you not
I will always need you dark and shine
please wait me, dun leave me behind..
dun ever say that words.. I am afraid..

Ibuku, wanita perkasaku.

•Februari 13, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Wanita-wanita Perkasa
yang membawa bakul di pagi buta
siapkah mereka?
dari pelosok-pelosok desa mereka mengelana

(Sapardi Djoko Damono, Wanita-wanita Perkasa)

Puisi ini pertama kali mengusik aku di bangku kelas satu esempe. sebuah sekolah sederhana yang kebetulan dilabeli paling bagus dan jadi sarang gengsi.puisi ini selalu berhasil memanggil-manggil aku menggumamkan bait demi bait seperti deretan doa sebelum tidur. saat waktu mengikis satu per satu kenangan, selalu saja puisi ini mampu membuat aku menoleh sejenak ke belakang dan merenungi masa lalu yang berlalu begitu cepat.

menoleh ke arah ibu, sosok yang selalu ada di masa lalu, masa kini, dan masa depanku.

siapakah yang tidak akan menyanjung ibunya? apalagi jika ibu kita pun disanjung oleh orang lain. seperti aku yang selalu memuji keramahan ibunya ikono, namun dalam hati, semuanya hanya sebuah pengingat, jalan penuh hint untuk aku membuka lembar-lembar tentang ibu. ibuku yang selalu penuh dinamika. ibu yang selalu aku banggakan apapun yang terjadi.

kata ossa, aku mirip sekali dengan ibu. selalu kelihatan tanpa beban, selalu penuh tawa, dan selalu berusaha menyembunyikan kesedihan. aku jadi teringat saat marah pada ibu dan nyaris 2 bulan penuh mogok telepon rumah waktu SMA karena ibu menutupi sakitnya bapak. kalaupun sampai detik ini parapsyhology tak pernah benar-benar diakui, tidak perlu lagi penjelasan scientifik untuk mengungkapkan naluri. beratus kilometer pun aku merasakan ada yang salah dan ibu ada di seberang sana dengan suara riangnya.’gak ada apa-apa din. bapak lagi sare di kamar’ ya..sayangnya ibu lupa menyebutkan bahwa bapak sare di kamar rumah sakit.

Antara Tiga Kota

•Juni 1, 2007 • & Komentar

Waktu kecil, aku tidak mengerti perempuan. Baca: yang normal. Normal dalam arti diharapkan lahir sebagai perempuan dan dibesarkan sebagai perempuan. Ingatkah waktu kita masih imut dan menggemaskan, ada trend memiliki diary. Perempuan-perempuan kecil saling mengisi nama, alamat, dan kesan. Permainan lucu yang tidak semenarik perang-perangan, sampai sebuah diari mengusik aku kecil.
Ada tiga lajur disana: kenalan, teman, dan sahabat. Si empunya minta aku menggolongkan semua perempuan-perempuan kecil menurut aku dalam 3 lajur tak berdosa itu. aku jadi bertanya-tanya. Apa itu kenalan? Apa bedanya teman dan sahabat?

Masa sekolah dasar yang membingungkan berlalu.SMP memulai pencarianku: makna kenalan, teman, dan sahabat. Ada teman yang dengan bangga berkata,’Aku punya banyak teman’. Jika memang mereka teman, mengapa dia menangis waktu aku bertanya masihkah dia punya teman jika dia berhenti mengajak mereka makan di McD. Wah… aku tidak mengerti makna tangisannya. Jangan tanya aku. Perempuan makhluk yang sulit dan sepertinya aku memang bukan perempuan karena aku tidak pernah berhasil mengerti mereka.

Yang jelas, selama tiga tahun masa SMP, aku yang tidak mau mencontek dan dicontek sukses terdepak di bangku barisan belakang bersama sederet preman-preman kelas yang pinter matematika tapi rendah kemampuan bahasa. Jadilah aku terbiasa mendengar kata-kata terlarang di rumah yang hanya terdiri dari 3 huruf, isi kebun binatang, bahkan isi dapur juga keluar. Tapi keasingan antara aku dan mereka terjembatani satu benang tak kasat mata. Bersama-sama kami menghabiskan sore-sore belajar di kelas, manusia-manusia pemalas yang ogah ikut bimbel sekedar untuk nampang, ikut pramuka, naik-turun gunung, dan kemping. Berbagi satu atap tenda dan terbenam lumpur dalam susah-senang bersama. Walau masih ada benteng itu, inilah pertama kali aku diterima. Mungkin inilah aku pertama kali mendapat teman. Ya.. teman.

Ternyata nasib bicara lain, kota kedua menampung ragaku untuk sementara. Kota yang dingin dan egois pada awalnya. Semua adalah yang terbaik dan tetap ingin menjadi yang terbaik, bukan hal yang baik untuk pemalas seperti aku. Hidup yang rutin dan membosankan: bangun-lari-makan-belajar-tidur. Masa yang mengerikan sampai akhirnya bertemu dengannya. Sama-sama ‘berbeda’, dan sama-sama ada di satu jalan. Bukan lagi menjembatani, ada yang mengikat aku dan dia. Tidak semua tentangnya yang aku mengerti, tapi aku yakin tidak akan ada lagi yang serupa dengannya muncul di hidupku. Begitu dekatnya kami, aku tidak yakin ada yang tidak tahu. Masih terbayang wajah ibu-ibu pamong saat menemukan kami terkapar bersama di sofa lobi graha setelah menyelinap semalaman (‘Dina..Betria.. Tidur disini lagi?’), atau bapak angkutan yang selalu menangkap kami sedang jalan-jalan escape ibadah dhuha (hayoo.. :D ). Hingga akhirnya kami terpisah, masih aku rasakan ikatan itu. Dia, pasti sahabatku. Ya, sahabat..

Masa SMA itu pun berlalu dan kota ketiga muncul dalam sejarah hidupku. Kota yang jauh lebih egois dan tidak bersahabat. Kota sejuta harapan dan impian. Manusia-manusia asing kesepian dan saling berjumpa, menjadi teman atau sekedar tahu nama. Begitu banyak, semuanya hanya untuk kepentingan dan akhirnya aku mengerti arti ‘kenalan’. Melengkapi trilogi makna yang aku cari. Sungguhpun, aku bertemu banyak manusia yang membuka mata dan hati, teman-teman berbagi nasib dan cita-cita. Sebuah perjalanan hati menuju impian. Kenalan, teman, dan sahabat, semuanya hanya perbedaan kuantitas dan kualitas. Sungguhpun aku tahu, perjalanan ini tidak akan terhenti di tiga kotaku

credits:
- Ayu, temen SD yang bikin diari aneh. ga penting nak.. :P
- semua yang sekedar ‘kenalan’ marilah jadi teman :) ,
- semua teman, terimakasih. u make my life more meaningful..

Natsu..

•April 27, 2007 • & Komentar

semusim bersamamu serasa sekejap, sahabat..

masa-masa berlalu dalam cerianya canda
dimana dulu hari hari bermula dalam canggung
kini terhapus dalam langkah yang teryakinkan

musim sudah berganti
hari ini tak sama dengan kemarin..
musim kedua mulai kita lewati

sahabat … ingatkan engkau akan hangat
bersama kita menyusur jalan ini lekat
memandu kenal wajah-wajah yang asing lalu dihati dekat

get together day pertama
ketika kita saling melempar senyuman
pada jiwa-jiwa baru yang penuh tanya..
siapa kamu …
siapa aku ….
siapa dia …

masihkah kau kenang, sahabat?
saat-saat kita berani memulai
langkah-langkah baru yang dahulu ragu kita jelang
belajar mengepakkan sayap-sayap muda
kebebasan lepas yang kita gapai, menapaki langkah hidup yang penuh tanya..

semusim ini denganmu, terasa sekejap, sahabat..

bunga-bunga merekah dalam senyuman hangatnya musim panas
menebar jiwa-jiwa muda yang mereka-reka makna dunia
di antara kebebasan yang kita tuai , aku tahu kau selalu ada disana
menuntunku tetap berdiri
aku, engkau disini, menatap istana mimpi yang coba kita rekonstruksi

masa ini akan berlalu
namun musim panas abadi yang kau tampilkan tak akan pudar

tidak juga keadilanmu hilang meskipun terhutang
tak akan pula kematian berdusta
meski kau mengembara dalam bayangnya yang samar

bersamamu, musim panas ini terasa sekejap..
biggest thanks:
- fixshine: boku no ichiban onii-sama, brother, friend, teacher,
and inspirator.. arigatou bro :)
- yearbook committee for giving me this chance. jaiyou :D