Sepasang Sepatu

langit biru
kaki-kaki melangkah.
sepatumu bicara padaku dalam sunyi.

mengapa kau mencintaiku?

satu pertanyaan dan aku terdiam.
langkah kita tertunda sebuah penyeberangan.
zebra cross yang menggoda semua kebisuan bertanya dalam kedipan.

mengapa kau mencintainya?

lampu hijau menggamitkan aku padamu.
beriring melintasi jalanan di bawah intimidasi lampu-lampu kendaraan berkedip seragam;

aku tak bisa menjawab
mengapa aku mencintaimu.

aduh! ada kerikil!
tapi aku ingin diam. aku tak ingin kerikil ini mengganggu setiap detik yang ingin kurekam
kenangan sepanjang jalan yang mungkin tidak akan mampu kita napak tilasi lagi
kuingatkan padamu: kita bukan jenderal sudirman

tapi sayang,
kebisuanku ternyata membangun pagar
pembatas pekaranganku denganmu
jalan kita berpisah arah
dan momen-momen agung itu berlalu…

sayang,
setahun penuh dan aku berjalan di sepanjang jalan ini sendiri.
menapak tilas setiap langkah yang pernah kita tempuh
oh, semua masih begitu sama..
ingatkah penjual nasi itu?
atau anjing yang pernah mengejar kita di perempatan lorong ini?
semua masih begitu sama, sayang..

hanya satu yang berbeda,
tak ada lagi sepatu-sepatu yang saling bicara
dan aku tak bisa lagi mencari alasan untuk mengatakan

betapa aku mencintaimu.

~ oleh namaewadina di/pada April 1, 2008.

Tinggalkan Balasan