D’Etre
Rasanya jalan menuju hall-ku ini tidak ada habisnya.
Aku sudah berjalan sepanjang Nanyang crescent, tapi rasanya jalan ini menjadi tak berujung. Padahal aku sudah capek. Kelelahan yang tak hanya fisik tapi juga mental bertarung di dalam kepalaku. Rasanya defense mechanismpun tidak mampu mengatasi id-ku yang egois ingin pulang. Tapi kenapa jalan ini tidak habis2nya berlanjut?
Langit Nanyang melirik aq dengan kepongahan. Handphone ku membisu di ujung jari. Pertengkaran setengah purnama lalu membayang.
Tiba-tiba aku muak.
* * *
Kadang aku heran mengapa nasib membawa aku terbang. Begitu jauh dari apa yang seharusnya tergaris. Aku hanyalah gadis biasa.dengan egoisme yang sama, idealisme masa muda yang dipenuhi harapan indah. Masa depan adalah kesemuan infinitif dalam ketidaknyataan untukku. Mendapat kesempatan untuk terbang jauh, lari dari segala kenyataan yang mungkin tidak akan sanggup aku hadapi, bukankah itu yang selalau aku rangkul dengan segenap hati? Dan sekarang di sini lah aku. Terbang jauh.
Aku hanyalah gadis biasa.
Kadang pula aku bertanya-tanya. Salahkah untuk terbang meninggalkan sarang untuk kembali? Jikalau aku terllau pengecut untuk meyakini bahwa sarang itu akan tetap kosong hingga aku pulang kembali,salahkah jika aku mencari sarang yang baru di tempat lain? Aku bukan merpati. Aku adalah gagak.
Dan sekali lagi, aku hanyalah gadis biasa.
Renunganku berakhir dalam memori sebuah window yang terbuka di hadapanku. Chat dengan kata2 dingin. Saling tuding. Dan akhirnya sarangku di seberang sana terhempas badai. Semua hanyut dalam hujan musim dingin yang pendek, singkat, dan menyakitkan. Membawa aku dalampertanyaan panjang.
Sekarang,saat ini,langit singapura yang kelabu menggelikan di bulan sepetember tertawa ke arahku. Memamerkan asap dan kabut yang dibawanya dari negera di seberang. Negara tercintaku. Menisbikan sebentuk rasa , getar yang tiba2 tersulut.
Bukan kah di sana ia berada?
Jalan ini sepertinya tidak akan berakhir.paling tidak dalam waktu kurang dari sejam lagi. Bayangan tawanya menggantung di udara. Mengejekku dalam sebuah parodi yang jelas. Tidak akan pernah bisa memancing tawaku. Nyengir pun mungkin aku akan sayang. Entah. Bukankah kadang hidup ini menggelikan? Hahaha…semuanya hanyalah undian belaka. Waktu adalah monster yang mengayun gada, menandai setiap detik yang berlalu dalam hidup. Seperti juga aku melewatkan masa-masa penuh senyumnya, masa-masa smsnya memenuhi inboxku, hingga masa-masa chat dengannya memboroskan message archive-ku.
Handphoneku masih terdiam selama separuh purnama. Inboxku hanya dipenuhi junk mail. Ikon-ikon di messengerku selalu dipenuhi orang2 yang tidak akan terlalu penting.
Aku berhenti berjalan. Langkah ini terlalu berat. Aku capek. Apakah hari ini shuttle-bus tidak jalan? Aku capek sekali..percayalah aku bukan anak manja yang mudah capek…
Tapi jalan ini sepertinya masih panjang..sebentar lagi malam. Kapan aku bisa sampai ke kamar?
Aku capek…
Aku hanya gadis biasa..
* * *
Jalan ini sepertinya memang masih sangat panjang. Mengapa?
Aku tidak tahu. Biasanya hanya seperempat jam,kamar di lantai 5 itu sudah muncul di hadapanku. Tapi entahlah kali ini rasanya tak akan ada habisnya Nanyang Avenue ini..
Yang aku tahu, handphone ku masih terdiam, inboxku masih penuh junk, dan suaranya tidak akan pernah muncul dalam hari-hariku.
Entahlah..aku tidak bisa berpikir lagi..aku capek…
Jalan ini…masih panjang ya?
Singapore, 25 Oct 2006
Tidak ada Komentar
Jadilah yang pertama untuk berkomentar!