Ibuku, wanita perkasaku.

Wanita-wanita Perkasa
yang membawa bakul di pagi buta
siapkah mereka?
dari pelosok-pelosok desa mereka mengelana

(Sapardi Djoko Damono, Wanita-wanita Perkasa)

Puisi ini pertama kali mengusik aku di bangku kelas satu esempe. sebuah sekolah sederhana yang kebetulan dilabeli paling bagus dan jadi sarang gengsi.puisi ini selalu berhasil memanggil-manggil aku menggumamkan bait demi bait seperti deretan doa sebelum tidur. saat waktu mengikis satu per satu kenangan, selalu saja puisi ini mampu membuat aku menoleh sejenak ke belakang dan merenungi masa lalu yang berlalu begitu cepat.

menoleh ke arah ibu, sosok yang selalu ada di masa lalu, masa kini, dan masa depanku.

siapakah yang tidak akan menyanjung ibunya? apalagi jika ibu kita pun disanjung oleh orang lain. seperti aku yang selalu memuji keramahan ibunya ikono, namun dalam hati, semuanya hanya sebuah pengingat, jalan penuh hint untuk aku membuka lembar-lembar tentang ibu. ibuku yang selalu penuh dinamika. ibu yang selalu aku banggakan apapun yang terjadi.

kata ossa, aku mirip sekali dengan ibu. selalu kelihatan tanpa beban, selalu penuh tawa, dan selalu berusaha menyembunyikan kesedihan. aku jadi teringat saat marah pada ibu dan nyaris 2 bulan penuh mogok telepon rumah waktu SMA karena ibu menutupi sakitnya bapak. kalaupun sampai detik ini parapsyhology tak pernah benar-benar diakui, tidak perlu lagi penjelasan scientifik untuk mengungkapkan naluri. beratus kilometer pun aku merasakan ada yang salah dan ibu ada di seberang sana dengan suara riangnya.’gak ada apa-apa din. bapak lagi sare di kamar’ ya..sayangnya ibu lupa menyebutkan bahwa bapak sare di kamar rumah sakit.

~ oleh namaewadina di/pada Februari 13, 2008.

Tinggalkan Balasan