ibuku (4)
sejak saat itu aku bertekat menunjukkan bahwa tidak ada yang salah dengan sebuah pekerjaan yang halal dan menurutku sangat dedikatif. aku menghapalkan huruf-huruf bahasa isyarat pertamaku. sepertinya Tuhan ingin menunjukkan indahnya dunia yang berwarna-warni karena pada saat itu sedang booming ‘pelangi di matamu’. aku mulai iseng menyebarkan bahasa isyarat mulai dari komunitas pramuka sampai akirnya g tw darimana banyak yang minta diajarin. paling standar ‘aku cinta kamu’ (huruf ‘k’, silang dada, tanda 5).
sepertinya Lia tahu dan walaupun tidak ada perubahan berarti pada sikapnya padaku, yang paling penting adalah ibu akhirnya mengerti bahwa aku masih tetap dina yang dulu. yang bangga padanya.
Ibu yang penuh harapan dan semangat. Ibu lah yang mendorong aku mendaftar ke TN. walau dengan seluruh ketegarannya harus meneteskan air mata saat aku bercerita betapa berbedanya tahap seleksi beasiswa yang aku alami dibanding casis lain. di antara seluruh permintaan maafnya yang tidak mampu mendukungku lebih dari itu. Ibu dengan tangis bahagianya saat aku diterima, ibu dengan sujud-sujud panjang di tengah malam selama aku ada jauh disana, hari-hari terik puasanya, untaian doa dan semua sedekah di tengah kekurangannya…
ibu mana lagi yang aku inginkan.
tidak akan pernah sesempurna ibuku.
Ibuku yang suatu waktu pernah mendukung aku di sepanjang jalan saat aku jatuh sakit dan bapak sedang dinas keluar kota,ibu yang membuat aku membedakan syal yang dirajut penuh kasih dan bukan, ibu yang suka malas mengetik sms dan hanya membalas iya dan tidak, semua sisi dari ibu adalah kumpulan keindahan yang tidak akan sanggup aku lukiskan.
Ibu,tanpa bakul kau tetap wanita perkasaku
maafkan aku.
aku tidak pernah sanggup mengatakan betapa aku mencintaimu.
*specially for my mom:
dun ever say I need you not
I will always need you dark and shine
please wait me, dun leave me behind..
dun ever say that words.. I am afraid..

Tinggalkan Balasan